Di pagi yang gelap dan berkabut, Pangeran Diponegoro dan pengikut setianya, Ki Ageng Selo dan Raden Mangkubumi, terpaksa mengalihkan perhatian mereka dari pegunungan menuju sebuah wilayah yang lebih aman. Namun, meski mereka telah berhasil melarikan diri dari pertempuran terakhir, mereka merasakan tekanan yang semakin berat dari pengejaran Belanda. Suatu hari, Diponegoro menerima informasi bahwa sebuah pertemuan damai mungkin bisa diatur di sebuah tempat yang tampaknya aman dan netral. Tanpa mengetahui bahwa ini adalah sebuah jebakan yang dirancang untuk menangkapnya, Diponegoro memutuskan untuk menghadiri pertemuan tersebut. “Kita tidak punya banyak pilihan,” katanya kepada pengikutnya. “Jika ada peluang untuk bernegosiasi, kita harus mencoba.” Diponegoro, dengan Ki Ageng Selo dan Raden Mangkubumi di sampingnya, pergi ke lokasi pertemuan yang ditentukan—sebuah rumah besar milik seorang temannya yang bisa dipercaya, yang terletak di pinggiran Yogyakarta. Tempat ini, meskipun terlihat d...
Pelajar dan Pembelajar