Di tengah riuhnya klaim menjunjung adab, kita sering menyaksikan ironi: praktik feodalisme justru makin dilanggengkan. Ini menciptakan sebuah pertanyaan mendasar: ketika kita menyerukan "dahulukan adab sebelum ilmu", sebenarnya apa yang ingin kita tanamkan pada masyarakat, khususnya di dunia pendidikan Indonesia? Apakah benar-benar adab yang memuliakan, atau justru feodalisme yang terselubung untuk mengontrol manusia? Mari kita bedah perbedaannya: Adab adalah tentang kemuliaan perilaku yang lahir dari kerendahan hati, empati, dan kesadaran akan martabat setiap individu. Dalam konteks pendidikan, adab berarti menghargai guru, sesama siswa, dan staf sekolah tanpa memandang status. Ini juga mencakup menghormati perbedaan pendapat dalam diskusi kelas, tidak merendahkan teman yang kurang mampu, atau berlaku jujur dalam ujian. Adab tidak mengenal kasta atau hierarki; ia mendorong kesopanan dan rasa hormat yang setara untuk semua. Adab menciptakan ruang dialog yang sehat, di mana ...
Seorang perempuan muda bertanya kepada ibunya. Ibu, lelaki sejati itu seperti apa? Ibunya terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di luar pengamatannya sudah menjadi gadis jelita itu. Terpesona, karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya sehingga kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan. Sepasang matanya yang dulu sering belekan itu, sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam gelap. Sinarnya begitu tajam. Sekelilingnya jadi ikut memantulkan cahaya. Namun jalan yang ada di depan hidungnya sendiri, yang sedang ia tempuh, nampak masih berkabut. Hidup memang sebuah rahasia besar yang tak hanya dialami dalam cerita di dalam pengalaman orang lain, karena harus ditempuh sendiri. Kenapa kamu menanyakan itu, anakku? Sebab aku ingin tahu. Dan sesudah tahu? Aku tak tahu. Wajah gadis itu menjadi merah. Ibunya paham, karena ia pun pernah muda dan ingin menanyakan hal yang sama kepada ib...