Langsung ke konten utama

Postingan

Adab, Feodalisme, dan Ilmu: Mana yang Sebenarnya Kita Tanamkan dalam Pendidikan Indonesia?

  Di tengah riuhnya klaim menjunjung adab, kita sering menyaksikan ironi: praktik feodalisme justru makin dilanggengkan. Ini menciptakan sebuah pertanyaan mendasar: ketika kita menyerukan "dahulukan adab sebelum ilmu", sebenarnya apa yang ingin kita tanamkan pada masyarakat, khususnya di dunia pendidikan Indonesia? Apakah benar-benar adab yang memuliakan, atau justru feodalisme yang terselubung untuk mengontrol manusia? Mari kita bedah perbedaannya: Adab adalah tentang kemuliaan perilaku yang lahir dari kerendahan hati, empati, dan kesadaran akan martabat setiap individu. Dalam konteks pendidikan, adab berarti menghargai guru, sesama siswa, dan staf sekolah tanpa memandang status. Ini juga mencakup menghormati perbedaan pendapat dalam diskusi kelas, tidak merendahkan teman yang kurang mampu, atau berlaku jujur dalam ujian. Adab tidak mengenal kasta atau hierarki; ia mendorong kesopanan dan rasa hormat yang setara untuk semua. Adab menciptakan ruang dialog yang sehat, di mana ...
Postingan terbaru

Laki-Laki Sejati (Putu Wijaya)

  Seorang perempuan muda bertanya kepada ibunya. Ibu, lelaki sejati itu seperti apa? Ibunya terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di luar pengamatannya sudah menjadi gadis jelita itu. Terpesona, karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya sehingga kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan. Sepasang matanya yang dulu sering belekan itu, sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam gelap. Sinarnya begitu tajam. Sekelilingnya jadi ikut memantulkan cahaya. Namun jalan yang ada di depan hidungnya sendiri, yang sedang ia tempuh, nampak masih berkabut. Hidup memang sebuah rahasia besar yang tak hanya dialami dalam cerita di dalam pengalaman orang lain, karena harus ditempuh sendiri. Kenapa kamu menanyakan itu, anakku? Sebab aku ingin tahu. Dan sesudah tahu? Aku tak tahu. Wajah gadis itu menjadi merah. Ibunya paham, karena ia pun pernah muda dan ingin menanyakan hal yang sama kepada ib...

Adab dan Feodalisme : Kontradiksi di Era Modern

Fenomena di mana adab didalilkan, tetapi feodalisme justru dilanggengkan adalah sebuah kontradiksi yang patut kita cermati. Terutama di era modern yang katanya menjunjung tinggi kesetaraan, kita masih sering melihat praktik-praktik yang mengarah pada sistem hierarki kuno ini. Lalu, apa sebenarnya perbedaan mendasar antara adab dan feodalisme, dan mengapa keduanya seringkali tumpang tindih secara paradoks? Adab adalah nilai-nilai luhur yang mengedepankan kesopanan, rasa hormat, empati, dan penghargaan terhadap martabat setiap individu. Adab mendorong interaksi yang setara, di mana setiap orang memiliki hak dan suara yang sama. Ia berlandaskan pada prinsip saling menghargai tanpa memandang status sosial, kekayaan, atau jabatan. Adab menciptakan lingkungan yang harmonis, di mana komunikasi didasari oleh pengertian dan niat baik, bukan dominasi atau ketakutan. Sebaliknya, feodalisme adalah sistem sosial yang kaku, hierarkis, dan tidak setara, di mana kekuasaan dan hak istimewa terkonsentra...

Robohnya Surau Kami

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.  Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.  Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebag...

TARIAN PENA (CERPEN)

Di bawah terik matahari aku menyusuri jalan kampung yang tampak tak berpenghuni. Samar-samar nyanyian tonggeret ter- dengar di sampingku. Bagai melodi yang tak tertata, sekali lagi aku mendengarnya. Sesampai dalam “istana tuaku”, terlihat seorang perempuan tua yang menyambutku dengan hangat. Nasi yang berselimut lauk-pauk tersedia dengan manis di meja makan. Setelah itu, aku masuk ke dalam ruang yang mengetahui setiap gerak-gerikku. Aku mulai memegang pena dan menggoreskannya di atas lembaran putih. Kutuang semua rasa yang bergejolak dalam hatiku. Tiba-tiba langit mulai gelap. Kuterlelap dalam buaian dingin yang kalap, bermimpi seorang pangeran gagah datang dengan kereta emas menjemputku dan merangkulku. Pagi cerah menanti sosok pelajar dari ibu pertiwi. Aku berdiri di lantai dua sekolah menanti kawan yang menyapa dengan senyuman. Kutatap pohon dan tanaman yang asri dan tersusun pula dengan rapi. Angin menyambar wajahku. “Fuuuuuuuuuu....” Seketika aku merasa tersengat dan memiliki sema...

Penangkapan Pangeran Diponegoro

Di pagi yang gelap dan berkabut, Pangeran Diponegoro dan pengikut setianya, Ki Ageng Selo dan Raden Mangkubumi, terpaksa mengalihkan perhatian mereka dari pegunungan menuju sebuah wilayah yang lebih aman. Namun, meski mereka telah berhasil melarikan diri dari pertempuran terakhir, mereka merasakan tekanan yang semakin berat dari pengejaran Belanda. Suatu hari, Diponegoro menerima informasi bahwa sebuah pertemuan damai mungkin bisa diatur di sebuah tempat yang tampaknya aman dan netral. Tanpa mengetahui bahwa ini adalah sebuah jebakan yang dirancang untuk menangkapnya, Diponegoro memutuskan untuk menghadiri pertemuan tersebut. “Kita tidak punya banyak pilihan,” katanya kepada pengikutnya. “Jika ada peluang untuk bernegosiasi, kita harus mencoba.” Diponegoro, dengan Ki Ageng Selo dan Raden Mangkubumi di sampingnya, pergi ke lokasi pertemuan yang ditentukan—sebuah rumah besar milik seorang temannya yang bisa dipercaya, yang terletak di pinggiran Yogyakarta. Tempat ini, meskipun terlihat d...

Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon (Cerpen karya Faisal Oddang)

Aku tumbuh menjadi pohon. Orang-orang di kampung kami akan tetap percaya bahkan jika harus didebat hingga mulut berbusa. Mereka mulai memercayainya sejak tahun 1947. Kini, pohon asam itu sudah besar dan semakin tua. Kira-kira dapat diukur dengan lima orang dewasa melingkarkan lengan untuk mampu memeluk batangnya. Hampir setiap hari orang merubut di sana mengucapkan doa yang rupa-rupa jenisnya lantas mengikatkan kain rupa-rupa warnanya dan berjanji membuka ikatan itu setelah doa mereka terkabul. Jadi jangan heran ketika di ranting, dahan, batang, atau tidak berlebihan jika kukatakan hampir semua bagian pohon penuh ikatan kain. Ada banyak doa di sana. Demi menjaga tubuhku, ada pagar beton sedada manusia, berwarna hijau lumut, mengelilingi batang pohon. Para pendoalah yang membangunnya. Ketika perang kembali pecah, awal 1947, yang orang-orang temukan tentu saja bukan pohon asam, tetapi kira-kira seperti ini: kami bergerombol digiring seperti kerbau. Kaki tangan kami dikekangi tali dari pi...