Langsung ke konten utama

Adab dan Feodalisme : Kontradiksi di Era Modern

Fenomena di mana adab didalilkan, tetapi feodalisme justru dilanggengkan adalah sebuah kontradiksi yang patut kita cermati. Terutama di era modern yang katanya menjunjung tinggi kesetaraan, kita masih sering melihat praktik-praktik yang mengarah pada sistem hierarki kuno ini. Lalu, apa sebenarnya perbedaan mendasar antara adab dan feodalisme, dan mengapa keduanya seringkali tumpang tindih secara paradoks?

Adab adalah nilai-nilai luhur yang mengedepankan kesopanan, rasa hormat, empati, dan penghargaan terhadap martabat setiap individu. Adab mendorong interaksi yang setara, di mana setiap orang memiliki hak dan suara yang sama. Ia berlandaskan pada prinsip saling menghargai tanpa memandang status sosial, kekayaan, atau jabatan. Adab menciptakan lingkungan yang harmonis, di mana komunikasi didasari oleh pengertian dan niat baik, bukan dominasi atau ketakutan.

Sebaliknya, feodalisme adalah sistem sosial yang kaku, hierarkis, dan tidak setara, di mana kekuasaan dan hak istimewa terkonsentrasi pada segelintir orang di puncak piramida. Dalam feodalisme, hubungan didasarkan pada superioritas dan inferioritas, di mana yang di atas memiliki hak untuk mengatur dan yang di bawah diharapkan untuk patuh tanpa banyak bertanya. Ini seringkali melibatkan patronase, nepotisme, dan praktik-praktik yang menempatkan loyalitas buta di atas meritokrasi atau keadilan. Feodalisme melanggengkan ketimpangan dan membatasi mobilitas sosial.

Perbedaan kunci terletak pada basis hubungan dan distribusi kekuasaan. Adab berakar pada kesetaraan dan rasa hormat universal, mempromosikan hubungan horizontal yang saling mendukung. Sementara itu, feodalisme berakar pada hierarki dan ketidaksetaraan, menciptakan hubungan vertikal di mana yang di atas mengendalikan yang di bawah.

 * "Banyak bicara adab tapi praktik di lapangan masih feodal? Itu bukan adab, itu arogansi terselubung kekuasaan! Adab itu menghargai setiap suara, feodalisme itu hanya mendengarkan yang berkuasa."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak

Menurut sahibul hikayat, sebermula ada seorang Datu yang sakti mandraguna sedang bertapa di tengah laut. Namanya Datu Mabrur. Ia bertapa di antara Selat Laut dan Selat Makassar. Siang-malam ia bersamadi di batu karang, di antara percikan buih, debur ombak, angin, gelombang dan badai topan. Ia memohon kepada Sang Pencipta agar diberi sebuah pulau. Pulau itu akan menjadi tempat bermukim bagi anak-cucu dan keturunannya, kelak. Hatta, ketika laut tenang, seekor ikan besar tiba-tiba muncul dari permukaan laut dan terbang menyerangnya. Tanpa beringsut dari tempat duduk maupun membuka mata, Datu Mabrur menepis serangan mendadak itu. Ikan itu terpelanting dan jatuh di karang. Setelah jatuh ke air, ikan itu menyerang lagi. Demikian berulang-ulang. Di sekeliling karang, ribuan ikan lain mengepung, memperlihatkan gigi mereka yang panjang dan tajam, seakan prajurit siap tempur. Pada serangannya yang terakhir, ikan itu terpelanting jatuh persis saat Datu Mabrur membuka matanya. “Hai, ikan! Apa maks...

Mengidentifikasi Teks Editorial

 Bacalah dengan cermat teks editorial berikut!  PENGGUSURAN LAHAN SALAH SIAPA? Banjir yang selalu melanda Ibu Kota Jakarta sudah tidak bisa ditoleransi dan dimaklumi. Harus ada solusi yang cepat dan tepat untuk mengatasinya sebelum Jakarta benar-benar tenggelam. Salah satu solusi yang diusung Pemkot DKI Jakarta adalah program normalisasi sungai. Program tersebut berupa pengosongan lahan di sekitar sungai-sungai yang ada di Jakarta. Pengosongan lahan pun akan berimbas pada seluruh warga yang tinggal di permukiman sekitar sungai. Dengan demikian, akan banyak relokasi yang dilakukan Pemkot DKI. Namun, relokasi ke rusunawa ternyata bukanlah kabar gembira bagi warga sekitar bantaran sungai sebab itu artinya mereka harus menata kembali hidup mereka dari awal sehingga tidak sedikit warga yang melakukan aksi menolak penggusuran. Masih segar dalam ingatan kita semua tragedi Kampung Pulo pada 20 Agustus 2015 kemarin. Tiga hari setelah rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke-70 te...

Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon (Cerpen karya Faisal Oddang)

Aku tumbuh menjadi pohon. Orang-orang di kampung kami akan tetap percaya bahkan jika harus didebat hingga mulut berbusa. Mereka mulai memercayainya sejak tahun 1947. Kini, pohon asam itu sudah besar dan semakin tua. Kira-kira dapat diukur dengan lima orang dewasa melingkarkan lengan untuk mampu memeluk batangnya. Hampir setiap hari orang merubut di sana mengucapkan doa yang rupa-rupa jenisnya lantas mengikatkan kain rupa-rupa warnanya dan berjanji membuka ikatan itu setelah doa mereka terkabul. Jadi jangan heran ketika di ranting, dahan, batang, atau tidak berlebihan jika kukatakan hampir semua bagian pohon penuh ikatan kain. Ada banyak doa di sana. Demi menjaga tubuhku, ada pagar beton sedada manusia, berwarna hijau lumut, mengelilingi batang pohon. Para pendoalah yang membangunnya. Ketika perang kembali pecah, awal 1947, yang orang-orang temukan tentu saja bukan pohon asam, tetapi kira-kira seperti ini: kami bergerombol digiring seperti kerbau. Kaki tangan kami dikekangi tali dari pi...