Di tengah riuhnya klaim menjunjung adab, kita sering menyaksikan ironi: praktik feodalisme justru makin dilanggengkan. Ini menciptakan sebuah pertanyaan mendasar: ketika kita menyerukan "dahulukan adab sebelum ilmu", sebenarnya apa yang ingin kita tanamkan pada masyarakat, khususnya di dunia pendidikan Indonesia? Apakah benar-benar adab yang memuliakan, atau justru feodalisme yang terselubung untuk mengontrol manusia?
Mari kita bedah perbedaannya:
Adab adalah tentang kemuliaan perilaku yang lahir dari kerendahan hati, empati, dan kesadaran akan martabat setiap individu. Dalam konteks pendidikan, adab berarti menghargai guru, sesama siswa, dan staf sekolah tanpa memandang status. Ini juga mencakup menghormati perbedaan pendapat dalam diskusi kelas, tidak merendahkan teman yang kurang mampu, atau berlaku jujur dalam ujian. Adab tidak mengenal kasta atau hierarki; ia mendorong kesopanan dan rasa hormat yang setara untuk semua. Adab menciptakan ruang dialog yang sehat, di mana setiap suara dihargai dan keadilan menjadi tujuan.
Sebaliknya, feodalisme adalah sistem yang kaku, hierarkis, dan tidak setara, di mana kekuasaan dan hak istimewa terkonsentrasi pada segelintir orang di puncak. Dalam dunia pendidikan, praktik feodalisme bisa terlihat dari budaya "senioritas mutlak" yang menindas junior, nepotisme dalam pemilihan organisasi siswa, atau sistem "sokongan" yang mengutamakan koneksi daripada kompetensi. Dalam sistem ini, hubungan didasarkan pada superioritas dan inferioritas; yang di atas memiliki hak untuk mengatur, dan yang di bawah diharapkan patuh buta. Ini seringkali berujung pada eksploitasi, diskriminasi, dan pembungkaman kritik. Feodalisme melanggengkan ketimpangan dan membatasi potensi individu demi kepentingan kelompok yang berkuasa.
Jadi, Apa yang Ingin Ditanamkan di Pendidikan Kita? Adab Sejati atau Feodalisme Terselubung?
Ketika frasa "dahulukan adab sebelum ilmu" digaungkan, idealnya ini bermakna bahwa karakter dan moralitas harus menjadi pondasi utama sebelum seseorang menguasai ilmu. Ilmu tanpa adab bisa menjadi bumerang, alat untuk memanipulasi, memperkaya diri sendiri, atau bahkan menindas. Di sekolah atau kampus, seseorang yang berilmu tinggi namun tidak beradab akan cenderung menggunakan pengetahuannya untuk mempertahankan kekuasaan atau statusnya dalam sistem feodal, seperti merendahkan teman yang nilai akademiknya rendah, atau memanfaatkan posisinya sebagai ketua organisasi untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kemaslahatan bersama.
Namun, yang patut diwaspadai adalah jika seruan "dahulukan adab" ini justru dimanfaatkan sebagai dalih untuk memperkuat struktur feodal dalam institusi pendidikan. Dalam konteks ini, "adab" bisa diartikan sebagai "kepatuhan buta kepada guru atau senior", "tidak boleh membantah apa yang dikatakan atasan", atau "menghormati senioritas secara mutlak tanpa ruang kritik", tanpa ruang untuk kritik konstruktif atau inovasi. Ini adalah adab palsu yang sebenarnya bertujuan untuk mengontrol manusia, memastikan bahwa yang di bawah tetap berada di tempatnya, dan yang di atas tidak diganggu gugat. Ini bukan adab yang memerdekakan, melainkan "adab" yang membungkam dan melanggengkan ketimpangan, menghambat merdeka belajar dan kreativitas siswa.
Intinya, kita harus jeli membedakan. Adab sejati akan selalu mendorong kesetaraan, keadilan, dan kemajuan yang merata. Ia akan memberdayakan setiap siswa, terlepas dari latar belakangnya, untuk berpikir kritis dan berkembang secara utuh. Sebaliknya, jika seruan "adab" justru dipakai untuk membenarkan ketimpangan, membatasi hak bersuara siswa, atau menuntut kepatuhan tanpa nalar kritis, maka itu bukanlah adab, melainkan manifestasi halus dari feodalisme yang berusaha mengendalikan manusia di balik tirai "kesopanan" dalam sistem pendidikan kita.
Komentar
Posting Komentar