Disrupsi dan Ancaman Karir
Oleh Ucok Ansari
Oleh Ucok Ansari
Dewasa ini, era disrupsi tak bisa dielakkan. Seseorang yang mahir dalam satu bidang profesional akan "stak" atau punah --prediksi paling ekstrem-- jika tak memiliki keahlian lain. Saya ambil contoh, profesi guru saja kini tak lagi sebagai sumber belajar, Keilmuannya akan tetap kalah oleh mesin pencarian yang disebut Google. Tetapi, saya sangat menyukai hal yang Jack Ma sampaikan, "Mesin memiliki keakuratan, keefektifan, dan efisiensi kerja. Tetapi, manusia memiliki perasaan dan kebijaksanaan". Jadi, profesi guru masih bisa stabil selama ia masih bisa mendidik siswa soal moral, etika, kebijaksanaan, atau hal apapun yang ingin sekolah bentuk pada siswanya. Bagaimana dengan profesi yang lain? disrupsi paling ekstrem di atas sudah dirasakan oleh profesi tukang ojek konvensional yang kalah saing oleh Gojek atau Grab. Disrupsi juga bisa berdampak pada profesi yang dianggap mapan oleh masyarakat yakni dokter. Profesi dokter sangat mungkin terancam, mengingat Google sedang mengembangkan produk kesehatan yang bisa mendeteksi penyakit ginjal. Bukan tidak mungkin Google membuat produk yang bisa menyembuhkan penyakit. Masih di dunia kesehatan, Teknologi untuk mencuci darah sudah ada di beberapa klinik. Biasanya ongkos cuci darah di rumah sakit berkisar 800 ribu- 1,2juta, namun klinik tersebut bisa memangkas harga hingga 70 persen. Pada bidang otomotif, saya melihat ada bengkel besar yang tidak memakai montir lagi, melainkan beberapa operator dan komputer yang bekerja di sana. Kini pengetahuan dan tenaga manusia menjadi hal yang "sangat murah" untuk dijual. Tentu hal ini dapat mengancam kesejahteraan umat manusia. Solusinya, apapun profesi kita, mau tak mau kita harus belajar tentang TEKNOLOGI atau keterampilan lain berkaitan dengan kemajuan zaman.
Komentar
Posting Komentar